Sabtu, 14 Maret 2009

CURAHAN HATI AREK KULIAHAN

GUNDAH

KOTA BANDUNG Terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari landasan bandara husein membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup didalam sebuah rumah dinas masih terlihat seseorang yang masih beraktifitas dengan semangat kegundahan yang mendalam dalam hatinya,sementara lagu ayat-ayat cinta terdengar sementara jari-jarinya masih sibuk diatas tuts dalam notebooknya untuk mencurahkan segala kegundahanya.

Di dalam kamarnya dengan ditemani rokok yang selalu setia sebagai penghibur kegundahanya sambil sekali melihat istrinya yang tidur pulas yang pada akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu dalam udara dinginya bandung dengan iringan kegundahan yang tiada tara sementara matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Dia adalah mahasiswa pasca yang dikenal pak kapten dikampusnya kebetulan dia adalah seorang perwira TNI yang sedang menempuh tugas belajar di program pasca sarjana dikota bandung dikenal masyarakat kampus sebagai perwira yang paling mudah untuk bergaul dan diajak bicara dengan betul-betul menanggalkan kepangkatanya,yah terlihat dalam dirinya tidak ada kebanggan terhadap pangkatnya yang menurutnya kebanggan terhadap pangkatnya justru akan menyirami benih kesombonganya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam perpustakaan dan ruang internet kampus meskipun dengan modal notbook yang bisa terbilang sudah tidak mengikuti perkembangan , dengan modal notbook yang tidak terbilang up to date dengan pedenya digunakan untuk menuntut ilmu dan mengakses segala informasi pada kampus terkemuka kota Bandung. Saat itu kampusnya adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian dikota kembang bandung.

Pada malam itu terlihat perwira kucel itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh perwira kucel itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.

Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,

fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.

qad aflaha man zakkaaha.

wa qad khaaba man dassaaha

…”

(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya…)

Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?

Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya tertidur.

***

Malam itu sang perwira kucel sedang menuliskan kegundahan yang ada dalam hatinya yang mendera dalam beberapa hari terakhir ini adapun rangkaian kata yang tertulisnya penuh dengan penjiwaan sebagai berikut

Kadang aku berfikir apalah salahku,aku sudah berusaha sedemikian rupa yang menurutku telah bijak,yah kadang aku menyadari bijak menurut saya belum tentu bijak menurut orang lain,begitu juga menurut hati istriku mungkin masih jauh dari harapan istriku.ketika itu sudah menghantui fikiranku yang ada hanya frustasi dan ingin rasanya hidup sendiri.terasa hidup ini serba tak nyaman,aku sadar aku masih punya Allah untuk mengadu…yah hanya Allahlah yang tau apa yang ada dalam hatiku sekarang ini…ingin rasanya saya bicarakan dengan istriku tapi berat rasanya karena hasilnya sudah dapat aku prediksi pasti bukan solusi yang akan didapatkan tapi justru rasa salah istriku dan juga tidak menutup kemungkinan yang pada akhirnya timbul ketidaksepahaman.

Sabar adalah kata yang terbaik…karena setiap langkah pasti salah bahkan diampun tetap terasa salah terus harus bagaimana ya Rob.....sholat adalah obat duka,jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu....yah itulah jalan satu-satunya melawan kegersangan hati,dengan sholat kutemukan ketenangan,dengan sholat aku bisa berkomunikasi denganNYA,dengan sholat hal yang paling sangat negatif dapat aku kikis,aku masih inget nukilan ayat qur’an yang selalu aku denger lewat radion raka kota tegal ketika aku masih SD,”wa akimus sholata inasholata tanha anilfahsai wanmunkar” sesungguhnya sholat akan mencegah dari perbuatan yang keji dan munkar.

Yang ada dalam fikiranku sekarang yang ada hanyalah emosi dan emosi dan juga rasa seperti dineraka yang tidak mengenakan sekali .padahal tinggal hitungan hari aku harus maju dalam sidang usulan penelitian thesis,sudah kukorbankan untuk mengundur jadwal thesis karena aku merasa tidak mampu,bukan merasa tidak mampu tentang materi tapi ketenangan hatiku yang tidak akan mampu,saya yakin semampu apapun atau sepandai apapun seseorang ketika dihadapkan dalam situasi seperti sekarang yang aku alami yakin tidak akan mampu untuk menentramkan hatinya,ketika kita bicara hati tentunya cuman aku yang tau dan aku yang dapat mengukurnya,yah suasana hati tidak bisa dipaksakan.tidak bisa dipaksakan untuk nekat maju untuk ujian thesis,dan keputusan yang menurutku paling bijakpun andaikata diketahui oleh istriku aku takut istriku merasa bersalah dan ujung-ujungnya akan jadi masalah yah biarlah kupendam perasaan kekecewaanku sendiri bahkan bukan hanya untuk saya sendiri tapi juga rekan rekanku di pasca maafkan aku semua friend aku belum bisa maju sekarang.

Ya allah tambahkan kesabaran untuk diriku ya Allah berilah kemudahan untuku ya Allah…tunjukan obat hati yang paling mujarab ya Allah,aku menyadari bahwa ketenangan hati adalah modal yang paling berharga dalam kehidupan,aku masih teringat tentang pengalaman ulama besar yang tidak berhasil untuk melaksanakan tauziahnya dengan baik karena hal yang berhubungan dengan ketenangan hati.

Untuk mencari ketenangan hati dimulai dari struktur yang paling kecil adalah dalam kehidupan keluarga,ketika suasana keluarga sudah tidak mendukung saya yakin apapun yang akan dicapai dengan usaha yang semaksimal apapun saya yakin tidak akan menghasilkan kinerja yang maksimal.dan itulah suasana hatiku sekarang ini.sekali lagi aku hanya bisa punya pegangan “wastainu bisobri wassholat”

……Awal januari 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar